All Blog
ProduktivitasSetupToolsDeveloper

Setup Developer Saya di Tahun 2025

10 Okt 202310 menit baca

Setelah setahun lebih bereksperimen dengan berbagai alat dan konfigurasi, saya akhirnya menemukan setup yang benar-benar nyaman dan produktif. Dalam artikel ini, saya akan berbagi setiap komponen dari setup developer saya — dari hardware hingga software, dari editor hingga ekstensi browser.

Editor: VS Code dengan Konfigurasi Minimalis

Saya menggunakan Visual Studio Code sebagai editor utama. Setelah mencoba Neovim selama beberapa bulan, saya kembali ke VS Code karena ekosistemnya yang matang dan kemudahan konfigurasi. Tema yang saya gunakan adalah "Catppuccin Mocha" — warna yang lembut dan nyaman di mata untuk sesi coding yang panjang.

json
// settings.json (VS Code)
{
  "editor.fontFamily": "JetBrains Mono",
  "editor.fontSize": 14,
  "editor.lineHeight": 1.8,
  "editor.cursorBlinking": "smooth",
  "editor.minimap.enabled": false,
  "editor.formatOnSave": true,
  "workbench.colorTheme": "Catppuccin Mocha",
  "editor.bracketPairColorization.enabled": true
}

Terminal: Windows Terminal + Oh My Zsh

Untuk terminal, saya menggunakan Windows Terminal dengan WSL2 (Windows Subsystem for Linux) yang menjalankan Ubuntu. Di atasnya, saya install Oh My Zsh dengan plugin yang membuat workflow menjadi jauh lebih efisien — mulai dari auto-suggestions hingga git status yang langsung terlihat di prompt.

bash
# Plugin Oh My Zsh yang saya gunakan
plugins=(
  git
  zsh-autosuggestions
  zsh-syntax-highlighting
  npm
  docker
)

# Alias yang sering dipakai
alias dev="npm run dev"
alias build="npm run build"
alias gs="git status"
alias gaa="git add . && git commit"

Ekstensi VS Code yang Wajib

Dari ratusan ekstensi yang tersedia, saya hanya menggunakan beberapa yang benar-benar meningkatkan produktivitas. Terlalu banyak ekstensi justru memperlambat editor dan mengacaukan workflow.

text
Ekstensi Wajib:
- ESLint + Prettier (code quality)
- Tailwind CSS IntelliSense (autocomplete)
- Auto Rename Tag (mengganti tag HTML secara bersamaan)
- GitLens (git history yang powerful)
- Error Lens (error langsung di baris kode)
- Pretty TypeScript Errors (error TS yang lebih mudah dibaca)
- GitHub Copilot (AI assistant)

Browser: Arc Browser

Belakangan ini saya beralih ke Arc Browser dan tidak menyesal. Fitur Spaces untuk memisahkan konteks kerja (misalnya satu space untuk proyek A, satu untuk proyek B) sangat membantu fokus. Tampilan yang minimalis juga mengurangi distraksi saat bekerja.

Ekstensi Browser Favorit

Untuk development, ekstensi yang paling sering saya buka adalah React Developer Tools dan Redux DevTools. Untuk produktivitas umum, saya menggunakan uBlock Origin untuk memblokir iklan dan ScreenPal untuk merekam screen dengan cepat.

Tools Tambahan yang Sering Dipakai

Beberapa tools tambahan yang tidak bisa saya bayangkan bekerja tanpanya: Figma untuk desain dan mockup (bahkan untuk proyek personal), Notion untuk dokumentasi dan catatan, dan Postman untuk testing API. Untuk manajemen versi Node.js, saya menggunakan fnm (Fast Node Manager) yang jauh lebih cepat dari nvm.

"Setup terbaik adalah yang tidak perlu Anda pikirkan. Ketika tools tidak menghalangi alur pikiran Anda, Anda bisa fokus pada hal yang sebenarnya penting: membangun sesuatu yang berarti."

Setup ini akan terus berkembang seiring dengan kebutuhan dan eksperimen baru. Yang terpenting bukan setup mana yang "terbaik", melainkan menemukan kombinasi yang paling sesuai dengan cara kerja Anda pribadi. Jangan ragu untuk bereksperimen dan terus menyesuaikan.

Tulisan Lainnya